breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Cara Membangun Jaringan Profesional bagi Pekerja Usaha Pertanian: Bangun Relasi lewat Kontribusi Kecil
Pelajari cara-cara membangun jaringan profesional pekerja usaha pertanian melalui diskusi pasar, simulasi biaya, kontribusi kecil, dan tindak lanjut.
Bekerja di bidang usaha pertanian membuat seseorang berhadapan dengan banyak pihak.
Ada petani, pemasok, pengepul, distributor, pedagang, pembeli, pengelola usaha, hingga orang yang menangani pemasaran.
Namun, sering bertemu banyak orang belum tentu berarti memiliki jaringan profesional yang benar-benar berkembang.
Percakapan sehari-hari bisa berhenti pada:
- Harga hari ini berapa?
- Berapa jumlah hasil panen?
- Kapan barang dikirim?
- Siapa yang membeli?
- Berapa biaya angkut?
- Apakah stok masih tersedia?
Padahal interaksi tersebut dapat berkembang menjadi ruang belajar yang jauh lebih luas.
Bagi pekerja usaha pertanian yang ingin memahami perencanaan usaha, biaya, dan pemasaran dengan lebih baik, jaringan profesional dapat membantu mempertemukan sudut pandang produksi dan pasar.
Tidak harus langsung mengenal banyak orang.
Mulailah dengan:
- Satu masalah usaha yang ingin dipahami.
- Satu rekan yang relevan.
- Satu pertanyaan yang spesifik.
- Satu kontribusi kecil.
- Satu tindak lanjut setelah mendapat masukan.
Dengan pola seperti ini, networking tidak hanya menjadi aktivitas menambah kontak.
Jaringan tumbuh dari percakapan yang relevan dan pertukaran pengetahuan.
Mengapa Pekerja Usaha Pertanian Perlu Bertukar Pengetahuan Lintas Pekerjaan
Bayangkan kamu terlibat dalam usaha satu komoditas pertanian.
Produksi berjalan.
Barang tersedia.
Namun ketika hasilnya siap dijual, muncul pertanyaan:
“Sebenarnya pembeli membutuhkan produk seperti apa?”
Atau:
“Harga jual yang terlihat menarik ini masih cukup setelah semua biaya dihitung?”
Pertanyaan seperti ini tidak hanya berkaitan dengan produksi.
Ada sisi lain yang perlu dipahami.
Misalnya:
- Kebutuhan pembeli.
- Biaya produksi.
- Biaya pengemasan.
- Biaya transportasi.
- Margin.
- Waktu pemasaran.
- Saluran distribusi.
Karena itu, bertukar pengalaman dengan pihak yang berada pada bagian berbeda dari rantai usaha dapat membantu.
Pelaku usaha tani mungkin memahami proses produksi.
Pemasar hasil pertanian dapat memberi perspektif tentang pembeli dan pasar.
Distributor dapat menunjukkan persoalan pengiriman.
Pengelola usaha dapat membantu melihat biaya dan keuntungan.
Setiap orang melihat usaha dari sisi yang berbeda.
Tentukan Dulu Apa yang Ingin Dipelajari
Keinginan memperluas jaringan profesional akan lebih mudah dilakukan jika tujuannya spesifik.
Daripada mengatakan:
“Saya ingin punya lebih banyak relasi di bidang pertanian.”
Lebih baik tentukan satu kebutuhan belajar.
Misalnya:
- Ingin memahami kebutuhan pembeli.
- Ingin belajar menghitung biaya usaha.
- Ingin mengetahui cara menentukan saluran pemasaran.
- Ingin memahami hubungan produksi dan permintaan.
- Ingin memperbaiki pencatatan biaya.
- Ingin belajar menyusun rencana pemasaran sederhana.
- Ingin memahami bagaimana harga jual dibentuk.
Tujuan yang jelas membantu menentukan siapa orang yang relevan untuk diajak berdiskusi.
Mulai dari Orang yang Sudah Ada di Sekitar
Membangun jaringan profesional tidak selalu harus dimulai dari acara besar.
Lingkungan yang sudah ada bisa menjadi titik awal.
Coba petakan:
- Pelaku usaha tani.
- Petani.
- Pemasok.
- Pedagang.
- Pengepul.
- Pemasar hasil pertanian.
- Distributor.
- Pengelola usaha.
- Rekan dari komunitas pertanian.
- Teman yang pernah bekerja pada usaha serupa.
Kemudian tanyakan:
“Siapa yang paling relevan dengan hal yang sedang ingin saya pelajari?”
Jika ingin memahami kebutuhan pembeli, misalnya, orang yang berhubungan langsung dengan pasar mungkin memberikan sudut pandang yang berbeda dari orang yang hanya berfokus pada produksi.
Saat Lingkar Diskusi Terbatas, Pertanyaan Kerja Sulit Berkembang
Pekerja usaha pertanian bisa sangat memahami aktivitas produksi.
Namun jika seluruh pengalaman hanya berputar pada produksi, cara melihat usaha juga bisa berhenti pada pertanyaan:
- Berapa hasil panen?
- Apakah produksi selesai?
- Apakah kualitasnya cukup?
- Apakah barang siap dikirim?
Padahal, ketika ingin memahami usaha secara lebih luas, pertanyaannya dapat berkembang.
Misalnya:
- Siapa pembelinya?
- Apa yang mereka butuhkan?
- Berapa biaya sebenarnya?
- Berapa harga minimal yang masuk akal?
- Saluran pemasaran apa yang digunakan?
- Apa yang membuat pembeli kembali?
- Bagaimana permintaan memengaruhi rencana produksi?
Kondisi ini relevan dengan kekhawatiran bahwa kemampuan perencanaan usaha, biaya, dan pemasaran hasil pertanian masih perlu diperkuat untuk menghadapi tuntutan pekerjaan.
Bertukar sudut pandang dengan pelaku usaha tani dan pemasar hasil pertanian dapat membantu membuka pertanyaan yang lebih luas.
Ubah Masalah Usaha Menjadi Bahan Percakapan
Situasi sehari-hari sebenarnya sudah menyediakan banyak bahan diskusi.
Misalnya hasil produksi tersedia, tetapi penjualannya lebih lambat dari perkiraan.
Daripada hanya mengatakan:
“Pasarnya sedang sepi.”
Kembangkan pertanyaannya.
Misalnya:
- Siapa pembeli utamanya?
- Apa alasan mereka membeli?
- Apakah ukuran atau kualitas sudah sesuai?
- Apakah waktu penawaran tepat?
- Apakah saluran pemasaran sudah sesuai?
- Apakah harga sudah mempertimbangkan biaya?
- Apakah ada kebutuhan pembeli yang belum dipahami?
Pertanyaan seperti ini membuat percakapan profesional lebih fokus.
Cara Memulai Percakapan Profesional yang Saling Bermanfaat
Percakapan tidak perlu terlalu formal.
Contohnya:
“Saya sedang belajar mengenali kebutuhan pembeli dan menghitung biaya usaha. Kalau mulai dari satu bagian, menurut Bapak/Ibu apa yang sebaiknya saya pahami lebih dulu?”
Atau:
“Saya ingin memahami bagaimana hasil pertanian dinilai dari sisi pembeli. Biasanya apa yang paling mereka perhatikan selain harga?”
Pertanyaan seperti ini lebih mudah dibahas karena:
- Topiknya jelas.
- Tujuannya spesifik.
- Ada konteks.
- Tidak meminta penjelasan terlalu luas.
Hindari Pertanyaan yang Terlalu Umum
Bandingkan:
“Bagaimana cara sukses di agribisnis?”
dengan:
“Kalau menjual satu komoditas kepada pembeli tetap, informasi apa yang perlu dipahami lebih dulu tentang kebutuhan mereka?”
Pertanyaan kedua jauh lebih konkret.
Dari situ, diskusi bisa berkembang ke harga, kualitas, volume, waktu, dan pola pembelian.
Jelaskan Konteks secara Singkat
Sebelum bertanya, beri konteks secukupnya.
Misalnya:
“Saya lebih banyak terlibat di kegiatan usaha pertanian. Sekarang saya ingin memahami hubungan antara biaya produksi dan pemasaran hasilnya.”
Tidak perlu menjelaskan seluruh riwayat pekerjaan.
Satu atau dua kalimat sudah cukup.
Dengarkan Cara Orang Lain Melihat Usaha
Ketika pelaku usaha atau pemasar memberikan masukan, jangan hanya mencari jawaban akhir.
Perhatikan cara mereka berpikir.
Misalnya:
- Siapa pembelinya?
- Apa kebutuhan pembeli?
- Berapa volume yang dibutuhkan?
- Apa standar kualitasnya?
- Berapa biaya yang dikeluarkan?
- Apa risiko distribusinya?
- Berapa margin yang dibutuhkan?
- Apa yang membuat transaksi berulang?
Cara berpikir seperti ini membantu pekerja melihat usaha pertanian sebagai rangkaian yang saling terhubung.
Bangun Relasi lewat Kontribusi Kecil
Hubungan profesional akan lebih kuat jika tidak hanya berisi permintaan bantuan.
Kamu juga dapat membawa kontribusi.
Misalnya:
- Rancangan pemasaran sederhana.
- Catatan biaya.
- Ringkasan hasil diskusi.
- Tabel harga dari data contoh.
- Perbandingan saluran pemasaran.
- Simulasi margin.
- Ide pengemasan.
Kontribusi tidak harus sempurna.
Yang penting menunjukkan bahwa kamu juga melakukan usaha untuk memahami persoalan.
Buat Rancangan Pemasaran Satu Komoditas dengan Data Contoh
Gunakan kasus simulasi.
Misalnya komoditas cabai.
Tentukan:
- Jumlah produksi: 100 kg.
- Biaya produksi: Rp1.500.000.
- Biaya pengemasan: Rp200.000.
- Biaya transportasi: Rp300.000.
- Total biaya: Rp2.000.000.
Kemudian tentukan beberapa kemungkinan pembeli.
Misalnya:
- Pedagang pasar.
- Warung makan.
- Toko bahan pangan.
- Konsumen langsung.
Selanjutnya tanyakan:
- Siapa yang membutuhkan volume besar?
- Siapa yang membutuhkan kualitas tertentu?
- Berapa biaya distribusinya?
- Berapa harga minimal agar biaya tertutup?
- Apakah ada perbedaan cara penawaran?
Latihan seperti ini dapat menjadi bahan diskusi dengan rekan yang lebih berpengalaman.
Jangan Berhenti pada Harga Jual
Dalam usaha pertanian, harga memang penting.
Namun, harga bukan satu-satunya pertanyaan.
Kembangkan analisis.
Misalnya:
- Berapa total biaya?
- Berapa biaya per kilogram?
- Berapa kehilangan atau susut?
- Berapa biaya distribusi?
- Berapa margin yang diharapkan?
- Apakah pembeli membayar langsung atau bertahap?
Dengan begitu, diskusi tentang pemasaran menjadi lebih utuh.
Minta Masukan terhadap Rancangan Usaha
Setelah membuat simulasi, bawa ke percakapan.
Misalnya:
“Saya mencoba membuat perhitungan biaya dan saluran pemasaran seperti ini. Menurut Anda, biaya apa yang masih sering terlupakan?”
Atau:
“Kalau targetnya pembeli usaha kuliner, apakah faktor kontinuitas pasokan perlu saya masukkan sejak awal?”
Pertanyaan seperti ini membuat diskusi lebih bernilai.
Gunakan Data Contoh, Bukan Informasi Usaha yang Bersifat Rahasia
Saat berdiskusi di luar pihak yang berwenang, hindari menggunakan:
- Data pembeli rahasia.
- Kesepakatan harga privat.
- Data keuangan usaha yang tidak boleh dibagikan.
- Kontrak pemasok.
- Informasi internal mitra.
- Data pribadi pelanggan.
Gunakan:
- Data simulasi.
- Nama fiktif.
- Harga contoh.
- Informasi publik.
- Kasus rekaan.
- Data yang memang boleh dibagikan.
Tujuannya adalah belajar tanpa membuka informasi sensitif.
Tindak Lanjuti setelah Mendapat Masukan
Misalnya seorang pelaku usaha memberi saran:
“Jangan hitung biaya produksi saja. Masukkan juga biaya distribusi dan risiko barang tidak terjual.”
Coba revisi simulasi.
Kemudian kembali:
“Kemarin saya tambahkan biaya distribusi dan perkiraan susut. Hasilnya harga minimal berubah. Menurut Anda, ada komponen lain yang masih perlu saya pertimbangkan?”
Tindak lanjut seperti ini menunjukkan bahwa masukan benar-benar digunakan.
Gunakan Pola Satu Percakapan, Satu Kontribusi, Satu Tindak Lanjut
Jika belum terbiasa networking, gunakan pola sederhana.
- Satu percakapan relevan
Pilih satu orang dan satu masalah.
- Satu kontribusi kecil
Bawa rancangan pemasaran, simulasi biaya, atau catatan.
- Satu tindak lanjut
Perbaiki berdasarkan masukan lalu kembali dengan hasilnya.
Networking kemudian tumbuh dari proses belajar yang berulang.
Fokus pada Kualitas Hubungan, Bukan Banyaknya Kontak
Jaringan profesional yang baik tidak harus besar.
Beberapa orang yang:
- Mau bertukar pengalaman.
- Mengenal kemampuanmu.
- Bersedia memberi masukan.
- Menghargai kontribusimu.
- Mau berdiskusi kembali.
bisa lebih berguna dibanding banyak kontak yang tidak pernah berinteraksi.
Karena itu, jangan hanya mengukur:
“Berapa banyak pelaku usaha yang saya kenal?”
Tanyakan juga:
- Dengan siapa saya pernah berdiskusi?
- Apa yang saya pelajari?
- Apa yang saya kontribusikan?
- Apakah ada tindak lanjut?
- Apakah hubungan tersebut berkembang?
Jangan Memulai Networking dengan Langsung Meminta Akses Pasar
Membangun jaringan profesional bukan berarti langsung meminta seseorang:
“Tolong carikan pembeli.”
Pendekatan seperti itu bisa terasa terlalu transaksional jika hubungan belum terbentuk.
Mulailah dari percakapan profesional.
Misalnya:
- Bertanya tentang kebutuhan pasar.
- Berdiskusi mengenai kualitas produk.
- Membahas biaya.
- Bertukar pengalaman distribusi.
- Mendiskusikan pola permintaan.
Jika kemudian terbuka peluang kerja sama, hal tersebut berkembang dari hubungan yang sudah memiliki dasar.
Kenalkan Diri melalui Hal yang Sedang Dipelajari
Saat bertemu orang baru, tidak perlu membuat perkenalan panjang.
Cukup sampaikan:
- Apa pekerjaanmu.
- Hal yang sedang dipelajari.
- Masalah apa yang ingin dipahami.
Contohnya:
“Saya terlibat di usaha pertanian dan sekarang sedang memperdalam perhitungan biaya serta cara membaca kebutuhan pembeli.”
Kalimat seperti ini memberi arah percakapan.
Cari Forum yang Relevan
Setelah memanfaatkan jaringan yang sudah ada, kamu dapat memperluas diskusi melalui:
- Komunitas petani.
- Forum agribisnis.
- Pelatihan usaha.
- Seminar pemasaran pertanian.
- Komunitas wirausaha.
- Kelompok belajar.
- Kegiatan kampus.
- Pertemuan pelaku usaha.
Tidak perlu mengikuti semuanya.
Pilih forum yang paling relevan dengan kebutuhan belajar.
Datang dengan Pertanyaan yang Konkret
Saat mengikuti forum, siapkan pertanyaan.
Misalnya:
- Bagaimana mengetahui kebutuhan pembeli?
- Biaya apa yang sering terlupakan dalam usaha pertanian?
- Bagaimana menentukan saluran pemasaran?
- Apa yang perlu dicatat untuk mengetahui usaha menguntungkan atau tidak?
- Bagaimana menjaga kontinuitas pasokan?
- Bagaimana perubahan harga memengaruhi perencanaan?
Pertanyaan seperti ini membuat forum menjadi ruang belajar yang aktif.
Hubungkan Jaringan dengan Tujuan Pengembangan Kemampuan
Tujuan utama dalam data adalah mendalami perencanaan usaha, biaya, dan pemasaran hasil pertanian agar lebih siap menerapkannya dalam pekerjaan.
Karena itu, orang yang relevan untuk diajak berdiskusi dapat berasal dari:
- Pelaku usaha tani.
- Pemasar hasil pertanian.
- Distributor.
- Pedagang.
- Pengelola usaha.
- Penyuluh.
- Orang yang memahami pencatatan biaya.
- Pelaku usaha pengolahan hasil pertanian.
Tidak semua harus menjadi mentor.
Sebagian cukup menjadi rekan untuk bertukar sudut pandang.
Menguatkan Bahan Diskusi melalui S1 Agribisnis
Percakapan profesional akan semakin berkembang jika dasar pengetahuan juga terus diperkuat.
Program S1 Agribisnis FTAN UMJ mempelajari pengelolaan usaha pertanian dari produksi hingga pemasaran.
Bagi pekerja usaha pertanian, bidang tersebut relevan dengan pembahasan mengenai:
- Perencanaan usaha.
- Produksi.
- Biaya.
- Pemasaran.
- Pengelolaan agribisnis.
- Analisis usaha.
- Hubungan produksi dan pasar.
Pengalaman kerja memberikan konteks nyata.
Pembelajaran terstruktur membantu melihat usaha secara lebih menyeluruh.
Baca juga: Pelajari S1 Agribisnis FTAN UMJ
Gunakan Materi yang Dipelajari sebagai Bahan Percakapan
Misalnya kamu sedang mempelajari perencanaan usaha.
Gunakan materi tersebut untuk membuka percakapan.
Contohnya:
“Saya sedang mencoba menghitung biaya per kilogram dari kasus simulasi ini. Kalau hasilnya akan dijual ke pembeli usaha, biaya apa yang menurut Anda harus ikut diperhitungkan?”
Pertanyaan seperti ini menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman lapangan.
Tidak Masalah Mengatakan Belum Paham
Dalam jaringan profesional, tidak perlu selalu terlihat paling tahu.
Kamu dapat mengatakan:
“Saya cukup memahami kegiatan produksinya, tapi masih sedang belajar membaca kebutuhan pasar dan menghitung usaha secara lebih lengkap.”
Kalimat seperti ini memperjelas kebutuhan belajar.
Pembelajaran Terstruktur Membantu Pertanyaan Menjadi Lebih Dalam
Pada awalnya pertanyaan mungkin:
“Harga jualnya berapa?”
Kemudian berkembang menjadi:
- Berapa total biaya?
- Siapa pembelinya?
- Apa kebutuhan mereka?
- Berapa volume yang mampu diserap?
- Bagaimana kualitas memengaruhi harga?
- Berapa biaya distribusi?
- Apa risiko usahanya?
- Bagaimana pemasaran direncanakan?
Semakin berkembang pengetahuan, semakin berkembang pula kualitas percakapan profesional.
Dari Rekan Belajar Menjadi Mitra Diskusi yang Dipercaya
Hubungan profesional berkembang melalui konsistensi.
Jika seseorang memberi masukan:
- Dengarkan.
- Catat.
- Coba terapkan.
- Perbaiki hasil.
- Kembali dengan perkembangan.
- Hargai waktunya.
- Berikan kontribusi jika ada yang bisa dibagikan.
Perlahan hubungan dapat berubah dari:
“Saya ingin bertanya.”
menjadi:
“Boleh kita diskusikan rencana usaha ini?”
Tepati Komitmen Kecil
Kepercayaan dibangun dari hal sederhana.
Jika mengatakan:
“Nanti saya kirim revisi perhitungannya.”
Kirim.
Jika sudah sepakat bertemu atau berdiskusi, tepati.
Jika seseorang memberikan masukan, lakukan usaha sebelum meminta penjelasan berikutnya.
Konsistensi seperti ini membantu hubungan berkembang.
Hargai Kontribusi Orang Lain
Jika sebuah saran membantu, sampaikan.
Misalnya:
“Masukan soal biaya distribusi kemarin membuat saya melihat perhitungan usahanya lebih lengkap. Terima kasih.”
Penghargaan yang spesifik menunjukkan bahwa kontribusi orang lain benar-benar digunakan.
Jangan Hanya Menghubungi ketika Membutuhkan Pembeli
Hubungan profesional akan lebih sehat jika tidak hanya aktif ketika ingin menjual.
Sesekali kamu dapat:
- Membagikan informasi pasar.
- Mengirim informasi pelatihan.
- Berbagi hasil latihan.
- Membagikan pembelajaran baru.
- Bertukar informasi mengenai komoditas.
Tetap relevan dan sewajarnya.
Ukur Jaringan dari Pembelajaran yang Terjadi
Setiap beberapa minggu, lakukan evaluasi.
Tanyakan:
- Dengan siapa saya sudah berdiskusi?
- Apa yang saya pelajari?
- Apa yang sudah saya praktikkan?
- Apa kontribusi yang saya berikan?
- Apakah ada percakapan lanjutan?
- Apakah pemahaman usaha saya berkembang?
Jaringan profesional yang sehat meninggalkan pembelajaran, bukan sekadar nomor kontak.
Contoh Rencana Networking Empat Minggu bagi Pekerja Usaha Pertanian
Gunakan pola sederhana.
Minggu 1
- Tentukan satu masalah usaha yang ingin dipahami.
- Pilih satu rekan yang relevan.
Minggu 2
- Buat simulasi biaya atau pemasaran.
- Mulai satu percakapan.
Minggu 3
- Pelajari masukan.
- Perbaiki rancangan.
Minggu 4
- Tunjukkan versi revisi.
- Ajukan satu pertanyaan lanjutan.
Satu relasi belajar yang berkembang secara nyata sudah menjadi kemajuan.
Contoh Percakapan dengan Pemasar Hasil Pertanian
Misalnya kamu ingin memahami kebutuhan pembeli.
Kamu bisa memulai:
“Saya lebih banyak terlibat di sisi usaha pertanian. Sekarang saya sedang mencoba memahami kebutuhan pembeli. Kalau menjual komoditas seperti ini, biasanya pembeli paling dulu melihat apa selain harga?”
Setelah mendapat jawaban:
- Catat.
- Bandingkan dengan kasus simulasi.
- Perbaiki rancangan pemasaran.
- Kembali dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
Dari pola seperti inilah percakapan dapat berkembang menjadi hubungan belajar.
Mempelajari Ruang Pengembangan Diri di FTAN UMJ
Bagi pekerja usaha pertanian yang ingin memperdalam kemampuan melalui pendidikan formal, Universitas Muhammadiyah Jakarta Fakultas Pertanian atau FTAN UMJ memiliki Program S1 Agribisnis Kelas Karyawan (P2K).
Program ini mempelajari pengelolaan usaha pertanian dari produksi hingga pemasaran.
Gelar yang diperoleh adalah Sarjana Pertanian (S.P.).
Program Studi S1 Agribisnis tercatat berakreditasi Unggul, sedangkan data institusi yang tersedia juga mencantumkan akreditasi Unggul.
Metode pembelajaran yang tercantum adalah Hybrid Learning.
Jadwal yang tersedia dalam data:
- Senin: 18.30–21.00
- Selasa: 18.30–21.00
- Rabu: 18.30–21.00
- Kamis: 18.30–21.00
- Jumat: 18.30–21.00
- Sabtu: 08.00–16.00
Baca juga: Informasi S1 Agribisnis FTAN UMJ
Cari Tahu Bentuk Interaksi Belajar yang Benar-Benar Tersedia
Lingkungan kuliah dapat mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman usaha yang berbeda.
Namun, jangan langsung menganggap program tertentu pasti memiliki fasilitas networking atau kegiatan profesi tertentu.
Hal yang dapat ditanyakan kepada kampus antara lain:
- Bagaimana bentuk diskusi di kelas?
- Apakah terdapat tugas atau proyek kelompok?
- Bagaimana Hybrid Learning diterapkan?
- Apakah ada kegiatan akademik di luar kelas?
- Apakah ada kegiatan terkait agribisnis yang dapat diikuti?
- Apakah terdapat kegiatan profesi?
- Apakah ada aktivitas alumni?
- Bagaimana interaksi antarmahasiswa berlangsung?
Hal tersebut perlu dikonfirmasi karena data yang tersedia tidak menjelaskan detail kegiatan tersebut.
Informasi program dapat dipelajari melalui halaman S1 Agribisnis FTAN UMJ.
Perhitungkan Biaya sebagai Bagian dari Rencana Pengembangan
Data program mencantumkan:
- Biaya formulir: Rp100.000
- Biaya herregistrasi: Rp900.000
- Total biaya awal simulasi: Rp1.000.000
- Simulasi enam kali angsuran: Rp900.000 per bulan
Komponen tersebut dapat dimasukkan ke dalam perencanaan sebelum mengambil keputusan.
Informasi umum kampus dapat dilihat melalui website FTAN UMJ.
Bangun Relasi lewat Kontribusi Kecil
Bagi pekerja usaha pertanian, membangun jaringan profesional tidak harus dimulai dari banyak kontak.
Mulailah dari satu persoalan usaha yang ingin dipahami.
Kemudian:
- Tentukan kebutuhan belajar.
- Pilih orang yang relevan.
- Ajukan pertanyaan spesifik.
- Bawa rancangan atau simulasi.
- Dengarkan sudut pandangnya.
- Minta masukan.
- Perbaiki hasil.
- Lakukan tindak lanjut.
Dengan pola seperti ini, networking menjadi bagian dari pengembangan kemampuan.
Pengalaman kerja memberikan konteks nyata mengenai produksi.
Percakapan dengan pelaku usaha tani dan pemasar hasil pertanian membantu memperluas pemahaman mengenai biaya dan pasar.
Pembelajaran yang lebih terstruktur kemudian dapat memperkuat cara melihat usaha dari produksi hingga pemasaran.
Seiring waktu, satu percakapan dapat berkembang menjadi kebiasaan bertukar pengalaman. Kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi hubungan profesional yang lebih bermakna.
Pelajari S1 Agribisnis di FTAN UMJ dan lihat bagaimana sistem kuliahnya dapat mendukung pengembangan kemampuan serta hubungan profesionalmu di bidang usaha pertanian.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus FTAN UMJ • Jl. KH. Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat, Jakarta Selatan 15419
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas Muhammadiyah Jakarta FTAN. All rights reserved.
FTAN UMJ